EL NINO DAN PENGARUHNYA TERHADAP KONDISI TERUMBU KARANG (Coral Bleaching)

Kondisi oseanografi Indonesia sangat dinamis, hal ini disebabkan oleh arus laut Indonesia yang juga sangat dinamis. Menurut hasil pantauan satelit, yang diverifikasi lewat pengukuran oseanografi di laut, ternyata memperlihatkan pola arus laut yang bergerak dari Samudra Pasifik menuju Samudera Hindia melewati selat-selat di perairan nusantara kita ini. Pergerakan arus lintas Indonesia, yang dikenal sebagai Arlindo, mempengaruhi perubahan iklim global, memicu kehadiran variabilitas iklim ekstrem, seperti El Nino, serta berdampak pada kondisi ekologi terumbu karang.
El-Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di Indonesia mengalami musim kemarau panjang yang menimbulkan musibah kekeringan yang berdampak luas. Dampak El Nino terhadap kehidupan di laut nusantara belum banyak dikaji. Tetapi, terdapat beberapa kenyataan yang menunjukkan bahwa terjadinya El Nino dikaitkan dengan peristiwa pemutihan karang (coral bleaching). Pemutihan karang ini juga terjadi akibat adanya akumulasi dari seluruh rangkaian proses yang di akibatkan oleh pemanasan global di dunia. Kajian mengenai El Nino perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak negatif yang dapat ditimbulkannya.

Pengaruh Iklim Global Terhadap Kondisi Oseanografi Indonesia

Tiga kondisi meteo-oseanografi Indonesia yang dipengaruhi perubahan iklim global yakni kondisi curah hujan di darat dan di laut, suhu permukaan laut, dan tinggi paras laut. Curah hujan sudah diketahui di pengaruhi oleh fenomena El Nino, yang diperkirakan akan mempengaruhi pula suhu permukaan laut. Pemanasan global akan menaikkan permukaan laut, dan mungkin pula suhu air laut. Disamping itu, lubang ozon yang semakin meluas diperkirakan akan mempengaruhi kinerja klorofil untuk berproduksi, baik di darat maupun di laut.

a. Mekanisme Terjadinya El Nino
Interaksi antara samudra dan atmosfer yang menghasilkan El Nino telah berlangsung secara rutin, rata-rata terjadinya setiap tiga sampai tujuh tahun serta dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari setahun. El Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada diatasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal.
Ketika El Nino terjadi, pergerakan sebagian dari massa air tadi berbalik arah dari wilayah perairan Indonesia menuju Samudra Pasifik. Saat itu, terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling, atau naikknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrient. Oleh sebab itu, saat El Nino, justru banyak khlorofil di perairan Indonesia, utamanya di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. El Nino memang bisa mengakibatkan gagal panen, kekeringan, serta kebakaran hutan. Namun, El Nino di perairan Indonesia justru meningkatkan jumlah Khlorofil dan jumlah wilayah up welling. Ini bisa berarti, saat El Nino Indonesia justru panen ikan, “Sengsara Membawa Nikmat”.
El Nino adalah sesuatu yang alami dan telah mempengaruhi kehidupan di wilayah Samudra Pasifik selama ratusan tahun. El Nino jelas merupakan proses alam yang tanpa kaitan dengan pengaruh ulah manusia. Maka tidak ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya atau mempengaruhinya selain menghadapi dan menganggulangi akibat-akibat yang ditimbulkannya. Dalam rangka itu kemampuan untuk meramalkan kadatangannya perlu sekali untuk dikembangkan. Meskipun rata-rata El Nino terjadi setiap tiga hingga tujuh tahun sekali dan dapat berlangsung 12 hingga 18 bulan, ia tidak mempunyai periode tetap. Kenyataan ini membuta El Nino sulit diprakirakan kejadiannya pada enam hingga Sembilan bulan sebelumnya. Namun demikian secara umum terdapat dua parameter yang biasa digunakan untuk mendeteksi terjadinya El Nino :

1. Indeks Osilasi Selatan/Southern Oscillation Index(SOI)
SOI adalah nilai indeks yang menyatakan perbedaan Tekanan Permukaan Laut (SLP) antara Tahiti dan Darwin-Australia. El Nino dideteksi ketika nilai SOI negatif selama periode yang cukup lama (minimal tiga bulan).
2. Suhu Muka Laut/Sea Surface Temperature (SST)
El Nino terutama ditandai dengan meningkatnya suhu muka laut di Pasifik Ekuator, SST ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-ratanya dan penyimpangan di daerah tersebut bernilai positif.
Selama kejadian El Nino, angin pasat timur melemah. Aliran ke Timur berbalik ke arah Barat. Perairan di sekitar Indonesia dan Australia menjadi dingin dan lebih kering.

b. Dampak El Nino di Indonesia
Fenomena El Nino menyebabkan curah Hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El nino tersebut. Namun karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebgai benua maritime, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino. El Nino pernah menimbulkan kekeringan panjang di Indonesia. Curah hujan berkurang dan keadaan bertambah menjadi lebih buruk dengan meluasnya kebakaran hutan dan asap yang ditimbulkannya.
Kekeringan dan kebakaran hutan terparah yang pernah terjadi selama 50 tahun terjadi di tahun 1997. Polusi udara yang ditimbulkannya menyebar hingga ke seluruh wilayah ditambah negara-negara tetangga, Brunei, Filipina, dan Thailand.

c. Hubungan Suhu Laut Dan Terumbu Karang
Peningkatan temperatur 10–20 C dalam waktu lima minggu akan mengakibatkan pemutihan karang atau penurunan temperatur hingga 30 C juga mengakibatkan stress pada ekosistem terumbu karang. laporan-laporan penelitian mengenai terumbu karang menyebutkan bahwa kebanyakan kerusakan terumbu karang berkisar pada akhir musim panas. Pemutihan karang juga disebutkan terjadi dengan kondisi angin dengan kecepatan rendah, langit cerah (tanpa awan), laut yang tenang, dan turbiditas rendah. Kenaikan suhu muka laut disebabkan terutama oleh efek rumah kaca dan penipisan lapisan ozon. Anomali suhu laut telah diteliti antara tahun 1986-1988, dimana hipotesisnya kerusakan terumbu karang disebabkan oleh pemanasan global. Pemantauan suhu terus-menerus di Pulau Pari menunjukkan bahwa pemanasan air dimulai 10 januari dan mencapai suhu maksimum sekitar 19 maret 1998. Selama masa terjadinya pemutihan karang, tercatat suhu air 2 atau 3oC lebih tinggi dari nilai rata-rata normalnya. Peristiwa pemutihan 1998 menyebabkan akibat yang lebih besar dalam hal area yang kena serta kematian karang-karangnya, dibandingkan dengan peristiwa yang sama pada periode El Nino 1982-1983 (Brown &Suharsono, 1990; Dr. Suharsono).
Dari hasil pencitraan satelit pada bulan juli 2009, tercatat bahwa suhu muka laut pada Juli lalu merupakan yang paling hangat di antara bulan-bulan Juli sepanjang sejarah pencatatan suhu di muka bumi. Besaran suhu Juli tahun ini juga memastikan bahwa fenomena El Nino sedang terbentuk di Samudra Pasifik. Beberapa ilmuwan mengira semakin melambungnya suhu muka laut dari tahun ke tahun bakal merujuk kepada perubahan yang lebih luas, yakni perubahan iklim global. Suhu rata-rata muka laut di sekujur bumi pada Juli lalu tercatat sebesar 16,99 derajat Celsius atau 0,59 derajat lebih hangat daripada suhu rata-rata muka laut sepanjang abad ke-20. Angka itu juga melampaui rekor Juli terpanas yang dicapai pada 1998. Jika dikombinasikan antara suhu di laut dan daratan global, 2009 memang tergolong tahun panas. Untuk kategori ini, suhu rata-rata global 16,37 derajat Celsius yang dicapai Juli tahun ini menempati peringkat kelima berdasarkan catatan suhu yang dibuat Badan Kelautan dan Atmosferik Nasional Amerika Serikat (NOAA) sejak 1880. “Tingginya suhu di lautan bisa mengancam terumbu karang, menyuplai energi lebih untuk produksi hurikan, menyebabkan ekspansi termal yang bisa mengangkat muka laut dan menenggelamkan pantai-pantai, memaksa relokasi beberapa spesies akuatik dan karenanya berdampak terhadap industri perikanan,” kata Ahira Sanchez-Lugo, ilmuwan iklim di Pusat Data Klimatik Nasional NOAA di Asheville, N.C.
Pemutihan (bleaching) atas karang-karang telah terjadi di Indonesia selama periode El Nino tahun 1998, yang terlihat mulai dari Kepulauan Riau, sampai ke Kepulauan Seribu, Kepulauan Karimun Jawa, dan juga di Pulau Bali, Pulau Lombok dan Selat Sunda. Gejala pemutihan karang dilaporkan pertama kali di Pulau Bali dan Lombok awal Maret 1998 dan di Kepulauan Seribu pada awal Mei 1998. Pada akhir agustus 1998 kematian yang meluas telah mencapai 90-95%, yang mencakup mulai dari rataan terumbu hingga ke kejelukan 25 m, dan yang mengalami pemutihan yang terparah ialah spesies karang bercabang, yaitu Acropora spp.
Menurut Dr. Wahyu S. Hantoro, terdapat laporan dalam literatur mengenai rekaman sepanjang tahun 500 tahun tentang kaitan El Nino dan bencana kemarau di Indonesia. Hal ini terlihat pada tubuh karang yang memperlihatkan sabuk pertumbuhan (growth banding) yang berbeda-beda lebarnya sesuai dengan keadaaan perbedaan kondisi iklim, termasuk El Nino. Juga terdapat hubungan yang jelas antara kadar isotop oksigen yang ada dalam tubuh karang dengan suhu air tempat dia hidup. Demikian pula halnya dengan isotop karbon dan perbandingan angka strontium terhadap kalsium, yang dua-duanya punya korelasi dengan suhu lingkungan dan juga dengan usia tubuh karang.
Peristiwa El Nino beberapa tahun terakhir telah menyebabkan pemutihan karang besar peristiwa-peristiwa di bagian timur Pasifik, dari peningkatan suhu laut. Pada skala yang lebih besar, pemanasan global adalah perhatian utama sebagai penghasil perubahan temperatur laut luas. Peristiwa coral bleaching telah mulai menjadi lebih sering dan luas, dalam dekade terakhir, dan ini menjadi perhatian para ilmuwan dan lingkungan. Coral bleaching mungkin merupakan tanda pertama dari ekosistem yang sensitif terhadap perubahan global yang terjadi terhadap lingkungan laut.

d. Perubahan Topografi Paras Laut dan Hubungannya dengan Terumbu Karang
Faktor utama yang mempengaruhi tinggi paras laut ialah pasang surut. Akan tetapi El Nino disebut sebagai faktor yang mempengaruhi tinggi muka laut. Selanjutnya tinggi muka laut dapat pula dipengaruhi oleh pemanasan global, berupa makin naiknya paras laut dan hal ini tentunya akan mempengaruhi kondisi ekologi laut terutama terumbu karang. Terumbu karang tumbuh mengikuti perubahan muka laut. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.
Pengukuran terhadap kenaikan muka laut telah dilakukan dan terjadi peningkatan 10-25 cm dalam kurun waktu 100 tahun dan akan meningkat hingga 95 cm pada abad selanjutnya (Pittock, 1998 dalam Hoegh-Guldberg, 2004). Kenaikan Muka laut sehubungan dengan Perubahan Iklim Global diakibatkan oleh: pemanasan Muka Laut,mencairnya Es di kutub,Rekayasa lingkungan oleh manusia. Jika mengacu pada tingginya kenaikan permukaan laut terhadap kelangsungan hidup terumbu karang, maka untuk 50 tahun mendatang, dengan rata-rata kenaikan per tahun adalah 0,7 cm (IPCC) maka hanya terjadi peningkatan sebesar 35 cm pada tahun 2058. Nilai ini sangat jauh dari kemampuan terumbu karang untuk bertahan hidup dimana kedalaman ekstremnya adalah 50 m. Oleh sebab itu kenaikan muka laut belum dapat dijadikan sebagai stress bagi terumbu karang.

Refferences :
http://www.coremap.or.id/downloads/0737.pdf
http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg03720.html
http://winter-physic001.blogspot.com/2009/04/peristiwa-el-nino-dan-la-nina.html

http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=21&Itemid=49

http://www.psmbupn.org/article/bencana-ekologi-sebagai-dampak-perubahan-iklim-global-dan-upaya-peredaman-risiko-bencana.html

Makalah seminar OSEANIK ”Status Terumbu Karang akibat Perubahan Iklim di masa mendatang” oleh Noir P. Poerba.

Advertisements

42 responses to “EL NINO DAN PENGARUHNYA TERHADAP KONDISI TERUMBU KARANG (Coral Bleaching)

    • jadi gini ton….El Nino tuh intinya menyebabkan udara menjadi lebih hangat diatas normal, nah…parameter hidup terumbu karang tuh yaitu suhu dan muka laut….nah akibat EL Nino suhu permukaan laut tuh naik dan juga berpengaruh pada naiknya muka laut…..akibat kefua hal tersebut, terumbu karang mengalami stress akibat kondisi perairan yang berubah…sehingga banyak terjadi coral bleaching (pemutihan karang)…..sudah mengerti?????^.^

      ada yang mau di tanya lagi gak????lagi on fire nih…..hehehe

    • nah…suhu yang dibutuhkan utk tumbuh itu sekitar 21 hingga 29 derajat celcius…..dan masih ada parameter lain agar terumbu karang tetap terus hidup….misalnya keadaan air yang harus mengalir, dan juga salinitas sekitar 32 ppm….

      klo kurang jelas tanya ja lagi ke gw ya…hehehhe

    • dalam kajian gw kali ini tuh…intinya tuh el nino tuh berpengaruh ama terumbu karang….nah…kayak yang udah dijelasin di artikel gw….klo el nino tuh menyebabkan perairan menjadi lebih hangat bahkan mencapai tahun ini suhu air laut merupakan yang terhangat sepanjang sejarah menurut data dari NOAA…….

      terumbu karang kan salah satu parameter hidupnya adalah suhu yang idealnya sekitar 21 hingga 29 derajat celcius….sedangkan peningkatan suhu 1 derajat ja terumbu karang bisa mengalami stress…akibatnya hingga terjadi yang namanya coral bleaching…..

      klo utk nanggulanginya sih blum ada soalnya el nino tuh peristiwa yang terjadi secara alami lagi pula peristiwa perairan menjadi lebih hangat dari kondisi normal itu karena akibat akumulasi dari pemanasan global….so intinya hentikan pemanasan global dan hidup untuk masa depan kita dan anak cucu kita…hehehe

      GO GREEN!!!!!

  1. woy ngapain nanyain ARLINDO???
    sendirinya juga tahu kan noh ada di artikel lo!!!!!…..

    eh fad gw ada yang belum ngerti dari artikel lo….
    gni kan tahun-tahun ini menjadi rekor suhu terpanas sepanjang sejarah dunia ini kan!!!!,,,,nah ada hubungannya ga ama global warming????
    trus mengapa kerusakan terumbu karang lebih sring ketika musim panas berakhir????

    good luck okkokkk……

    • eh…gw gak ngebahas ARLINDO….karena gw gak ngerti karena itu juga gw nanya lu…..jelasin donk….

      ada donk….akibat akumulasi pemanasan global….bayangkan deh el nino yang menyebakan suhu meningkat ditambah lagi dengan pemanasan global tentu ja suhu meningkat secara terus-menerus…..

      klo ttg terumbu karang lebih sering rusak ketika musim panas berakhir kurang tau ya….heheheh…pending dulu ya..gw mw blajar lagi nih….hehehe

  2. oke,,,,,

    klo memang el nino dapat berdampak baik bagi hasil perikanan,,,, itu bagus,,,,

    tp di situ disinggung jg mengenai dampak kenaikan suhu dapat mempengaruhi kondisi ekosistem terumbu karang????

    menurut kmu apa dong yg harus qt lakukan sebagai generasi penerus di bidang perikanan dan kelauta???

    asik ni didiskusiin………….

    • yup…memang peristiwa el nino bisa berdampak baik bagi perikanan….

      yang harus kita lakukan yaitu melakukan konservasi terumbu karang karena klo sampe terumbu karang ini rusak tentunya akan berdampak sistemik karena seperti yang kita ketahui terumbu karang merupakan “rumah” bagi para ikan….klo terumbu karang sampe rusak dimana mereka akan tinggal dan mendapatkan makanan….tentunya jumlah ikan juga akan berkurang…..

  3. Halo aufa apa kabar?
    waduh bingung nih mau komen apa…
    abis udah sedikit lupa, hehehe….

    Meskipun kita udah beda haluan, tapi pesenku, mari kita jaga kelestarian laut kita. Segala macam kekayaan laut baik itu perikanan, terumbu karang, magroove, padang lamun, kita jaga sama” demi kelangsungan hidup kita dan generasi kita.

    Ingat, bukan Indonesia yang butuh dunia, tapi dunia yang butuh Indonesia, kita adalah paru-paru dunia, dan kekayaan terumbu karang kita adalah yang terbesar di dunia.

    Hehehehe…. sori ya kawan komennya agak aneh!

    • baik….lu pasti baik2 juga kan,,,,

      hehehe…gpp….yang penting masih ingat teman2 di kelautan….

      yoa bener bgt tuh pesennya,,,.laut harus kita jaga kelestariannya…

      hehehe…gpp….thx ya udah mw berkunjung ke blog gw….

  4. isinya bagus..
    mari sama2 menjaga kelestarian..
    seandainya aja 30% dari dunia bisa menjaga kelestarian alam pasti bencana gk kan terlalu parah..ya gk?hehehee
    oh yach…
    katanya el nino tu terjadi dari interaksi antara samudra n atmosfer..tu mank interaksinya gimana?trus el nino tu berupa ap yach?
    thx..

    • hehehe…thx yah….
      bener tuh….gak perlu sesuatu hal rumit untuk memulainya juga…dari hal paling gampang pun udah bisa berkontribusi untuk kelestarian alam…

      mengenai el nino,ini nihh penjelasannya…
      El Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada diatasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal.

      el nino tuh berupa gejala alam….pemahaman lebih mudah tuh akibatnya suhu menjadi naik diatas normal….

  5. fad gw masih kurang ngerti di pembahasan Perubahan Topografi Paras Laut dan Hubungannya dengan Terumbu Karang, bisa dijelasain dikit gak ????? yang singkat aja,,,,,

    sorry y, rada LOLA euy,,,,,

    • gini met….kan terumbu karang punya batas toleransi terhadap kedalaman laut maksimal 50-70 meter, tapi umumnya berkembang baik pada kedalaman 25 meter…kalau topografi paras laut semakin naik dengan kata lain permukaan air laut semakin naik berarti kehidupan terumbu karang semakin terancam akibat dari terumbu karang yang harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang sudah berbeda sehingga terumbu karang mengalami stress….terumbu karang dapat hidup pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan….ok met…ada yang masih blum dimengerti???

  6. auffaaaa
    diatas kan dibilang katanya trumbu karang bisa stress juga.
    apa aja sih gejala gejala stressnya ekosistem terumbu karang ini ?
    hhe
    thank you 😀

    • Pemutihan terumbu karang diartikan sebagai hilangnya pigmen warna dari terumbu karang yang diakibatkan oleh stress lingkungan. Pemutihan ini sebenarnya adalah proses lepasnya dinoflegellata dari karang sehingga yang tampak adalah hanya coral saja. Pemutihan ini berdampak pada proses metabolisme dan kehidupan karang karena suplai makanan ke karang berhenti….jadi gejalanya tuh terumbu karang sudah mulai gak punya warna lagi akibat dari lepasnya dinoflagellata tersebut….ok tanty…

  7. fad mw nanya donkk . .

    menurut refrensi yg saya baca terumbu karang dapat hidup pada kedalaman hingga 90 m,
    namun pada blog anda ini, terumbu karang hanya dapat hidup hingga 70 m.
    mohon penjelasan nya donkk . .
    trimss . . .

    coment blog w jg y . .

    • klo tentang perbedaan seperti itu…saya juga susah menjelaskan…hanya saja informasi yang saya dapat memang seperti itu….tapi saya coba menjelaskan dari pendapat saya sendiri….klo pun ada terumbu karang bisa hidup hingga kedalaman 90 m maka saya pikir jumlahnya sudah sangat sedikit sekali…tidak sebanyak jumlah terumbu karang pada kedalaman 25 meter yang umumnya baik bagi perkembangan tumbuh terumbu karang……

      klo masih kurang puas….mari kita bahas lagi…..thx…

  8. Assalamualaikum fad..

    sory bos yang tadii salah pertanyaan..

    hehe

    ini pertanyaan yang sebenarnya..
    menurut anda bagaimana apabila terumbu karang yang terkena dampak El Nino terhadap penyerapan karbon di laut??

    ditunggu jawabannya..

    • waalaikum salam…..

      ok…ok…gpp….

      pertanyaan yang membingungkan…….aku gak ngerti sama sekali tentang dampak el nino terhadap penyerapan karbon….soalnya klo berbicara tentang el nino itu berarti tentang peristiwa yang terjadi akibat anomali atmosfer……trus klo kita berbicara tentang penyerapan karbon di laut berarti kita membicarakan tentang laut yang menyerap karbon dari atmosfer dalam bentuk CO2…memang kedua hal ini menjadi perhatian khusus saat ini akibat pemanasan global….

      jadi menurut saya….kedua hal ini tidak berhubungan…..maaf ya klo kurang puas ato malah tidak puas…..thx atas pertanyaannya….

    • ok thx atas pertanyaannya…

      parameter untuk tumbuhnya terumbu karang cukup banyak soalnya terumbu karang sangat sensitif sekali terhadap perubahan lingkungan….

      faktor lingkungan yang berperan dalam perkembangan terumbu karang sebagai berikut:
      1. suhu : sebaran terumbu karang di dunia di batasi oleh permukaan laut yang isoterm yaitu 20 derajat celcius jadi tidak ada terumbu karang dapat hidup pada suhu dibawah 20 derajat celcius. Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C.

      2. salinitas : terumbu karang dapat tumbuh dan berkembang pada salinitas normal sekitar 32­35 ‰. umumnya terumbu karang tidak tumbuh dan berkembang pada daerah yang salinitasnya rendah misalnya daerah yang menjadi muara sungai-sungai besar. namun ada terumbu karang mampu tumbuh dan berkembang pada salinitas yang tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %.

      3. cahaya dan kedalaman :kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

      4. gelombang : gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.

      5. arus : faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.

      begitu kira-kira faktor lingkungan yang mendukung tumbuh dan berkembangnya terumbu karang……tapi ada juga dari faktor dari luar….misalnya aktivitas manusia yang sering kali merusak terumbu karang…..bahkan isu global warming sekarang juga mengancam kehidupan terumbu karang…..lalu peristiwa-peristiwa alam seperti El Nino yang sedang aq kaji…..

      SAVE OUR CORAL!!!!
      LET’S DO IT!!!

    • terima kasih….

      klo untuk daratan dampak terburuknya bisa terjadi kebakaran hutan dan kekeringan…peristiwa ini pernah terjadi pada tahun 1997…Organisasi lingkungan internasional, Wetland International (WI), menyatakan, akibat kebakaran hutan tahun 1997, 1998, dan 2002 yang menghabiskan lahan hutan antara 1,5 juta dan 2,2 juta hektare, telah diemisikan gas karbon dioksida (CO2) sebesar 3.000 hingga 9.400 megaton/Mton (setara 818 hingga 2.563 Mton karbon dan setara antara 13 persen hingga 40 persen emisi dunia, dengan asumsi seluruh karbon adalah bagian dari CO2 hasil pembakaran).

      sedangkan klo untuk dampak di lautan….seperti yang sedang aq bahas ini….dampaknya bisa menyebabkan coral bleaching akibat suhu yang naik diatas normal….bahkan pada bulan juli 2009 lalu memecahkan rekor suhu terhangat (bisa dilihat pada artikel saya yang judulnya : “rekor suhu terhangat sepanjang sejarah”)….beberapa ahli menyatakan bahwa keadaan ini tentunya akan mengancam kehidupan terumbu karang yang tentu saja berdampak secara sistemik pada ekosistem di laut…..apalagi akibat akumulasi pemanasan global….wow…bener-bener terancam terumbu karang kita….karena itu mari lestarikan….

  9. maaf sy mau tanya, kalau misalnya memang El Nino ini menyebabkan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia menurun, tapi kenapa konsepnya terumbu karang bleaching karena kenaikan suhu ya?

    • maaf…mgkn coba dibaca lagi…el nino menyebabkan suhu permukaan laut meningkat…akibatnya terumbu karang yang memiliki faktor pembatas suhu apabila melebihi batas suhu yang mampu ditolerir maka dapat menyebabkan bleaching…

      • ooh hmm maksud saya khusus untuk indonesianya sendiri nih.. kan konsep untuk el nino sendiri ketika el nino terjadi, SST yang menghangat adalah suhu pasifik bagian tengah dan timur kan? sedangkan Indonesia yang ada di pasifik bagian barat kan seharusnya jadi dingin bukan? tapi kenapa ketika el nino terjadi terumbu karang indonesia juga ikut terkena bleaching ya? apa ada konsep yang sy salah tangkap nih?

      • coba baca ini lagi…
        Interaksi antara samudra dan atmosfer yang menghasilkan El Nino telah berlangsung secara rutin, rata-rata terjadinya setiap tiga sampai tujuh tahun serta dapat mempengaruhi iklim dunia selama lebih dari setahun. El Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada diatasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Bagian barat Samudra Pasifik tekanan udara meningkat sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan awan di atas lautan bagian timur Indonesia, sehingga di beberapa wilayah Indonesia terjadi penurunan curah hujan yang jauh dari normal.
        Ketika El Nino terjadi, pergerakan sebagian dari massa air tadi berbalik arah dari wilayah perairan Indonesia menuju Samudra Pasifik. Saat itu, terjadi penurunan volume massa air yang bergerak dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Kosongnya massa air di wilayah perairan Indonesia tadi kemudian mendorong munculnya up welling, atau naikknya massa air dari bawah permukaan ke atas permukaan, yang juga kaya nutrient. Oleh sebab itu, saat El Nino, justru banyak khlorofil di perairan Indonesia, utamanya di wilayah Barat Sumatera dan Selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. El Nino memang bisa mengakibatkan gagal panen, kekeringan, serta kebakaran hutan. Namun, El Nino di perairan Indonesia justru meningkatkan jumlah Khlorofil dan jumlah wilayah up welling. Ini bisa berarti, saat El Nino Indonesia justru panen ikan, “Sengsara Membawa Nikmat”.

        sebenarnya saat terjadinya el nino ada proses kesetimbangan yang terjadi di situ…pergerakan massa air yang terjadi disitu merupakan proses kesetimbangan…
        ada peristiwa lain yang juga berhubungan dengan el nino yaitu la nina(kebalikan dari el nino) yang tidak saya jelaskan disini…

        mgkn utk pemahaman konsepnya bisa kunjungi blog ini :
        http://fresh-wonderfulday.blogspot.com/2009/02/elnino-lanina.html

        http://mbojo.wordpress.com/2007/04/08/el-nino-dan-la-nina/

  10. kang mau nanya
    kata kang aufa kan terumbu karang itu sangat sensitif ya, nah apa berarti terumbu karang tidak bisa beradaptasi terhadap perubahan lingkungan ?
    terus kalau misalnya ada adaptasinya, bisa tlg dijelasin ga contohnya apa aja ?
    makasi kang

    • iya benar terumbu karang sensitif terhadap perubahan lingkungan…misalnya terjadinya adaptasi morfologi akibat kondisi lingkungan karena perairan yang memiliki sedimentasi yang tinggi atau memiliki arus kuat, umumnya karang non-acropora lebih tahan pada kondisi ini daripada karang acropora dan umumnya memiliki bentuk pertumbuhan massive atau submassive…sedangkan untuk perairan yang jernih dan sedimentasinya rendah umumnya dijumpai karang acropra misalnya dengan bentuk pertumbuhan acropra branching. sedangkan untuk adaptasi fisiologisnya karang memproduksi mucus untuk menghilangkan sedimen, atau juga bisa melalui pergerakan tentakel…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s